DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

10 Mei 2018

SINERGITAS KAWASAN EKONOMI DENGAN KAWASAN SEKITAR MERUPAKAN KUNCI KEBERHASILAN

Pengembangan kawasan khususnya kawasan dengan karakter ekonomi yang kuat seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI)  pasti akan mempengaruhi kawasan sekitarnya. Akan muncul kegiatan-kegiatan baru yang mengambil peluang terutama di sekitar kawasan ekonomi yang sedang dikembangkan. Untuk itu sinergitas antar kawasan ekonomi dan kawasan sekitarnya terutama untuk kawasan yang menjadi prioritas nasional menjadi salah satu perhatian Pemerintah. Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ BPN pada tahun 2018 akan menyusun enam materi teknis rencana rinci tata ruang di sekitar kawasan ekonomi prioritas nasional tersebut, yaitu kawasan di sekitar KEK Morotai, KEK Bitung, KI Sei Mangkei, KI Morowali, KI Bantaeng dan KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). “Rencana rinci tata ruang harus disusun dengan pendekatan holistik dan integratif demi terwujudnya pemanfaatan ruang kawasan yang berhasil dan berdaya guna serta berkelanjutan,” ujar Direktur Penataan Kawasan, Agus Sutanto, pada Rapat Koordinasi Pemetaan Kebijakan di Sekitar KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) dan KI  Sei Mangkei, KI Morowali dan KI Bantaeng di  Jakarta (11/5).

KEK dan KI diharapkan menjadi katalis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu kawasan dengan memaksimalkan keunggulan sumber daya lokal, penciptaan lapangan kerja dan menarik banyak investasi. Namun kenyataan di lapangan masih banyak tugas besar yang perlu dituntaskan. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Morowali, Dr. Emil, menyampaikan bahwa pengembangan kawasan industri saat ini belum disertai dengan pembangunan infrastuktur pendukung sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap sosial, ekonomi, dan lingkungan. “Kebutuhan tempat tinggal untuk para pekerja yang tinggi mengakibatkan munculnya banyak permukiman ilegal di atas zona lindung seperti hutan bakau. Selain itu, kawasan industri masih terisolir karena minimnya dukungan infrastruktur khususnya jalan penghubung antar kawasan industri dan pusat kegiatan masyarakat,” ujar Emil.

Kasubdit Penataan Kawasan Ekonomi, Doni J. Widiantono menyampaikan bahwa penentuan delineasi kawasan sekitar mempertimbangkan banyak hal, diantaranya jangkauan pusat kegiatan utama, rantai pasok dan keberlanjutan sistem lingkungan.  Penataan kawasan di sekitar KEK dan KI jukan akan dilakukan secara holistik dan integratif melalui pendekatan multi-faset atau building blocks penataan kawasan yang terdiri atas kajian kewilayahan, perencanaan rinci, aspek keberlanjutan serta kelembagaan dan tata kelola. Pendekatan ini bersifat tematik spasial sehingga dapat diaplikasikan dengan melihat karakteristik masing-masing kawasan. Pendekatan ini diharapkan dapat menjawab permasalahan yang saat ini dihadapi.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perindustrian dan sektor-sektor pusat lainnya serta dihadiri perwakilan kantor pertanahan dan pemerintah daerah terkait.. Pada penutupannya, Agus mengingatkan peran pemerintah daerah yang sangat krusial dalam mewujudkan sinergitas kawasan.”Materi teknis ini nantinya akan menjadi Peraturan Daerah, untuk itu pemerintah daerah diharapkan dapat mengawal proses legislasinya”, tutup Agus.


Sumber : admin

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita