DIREKTORAT JENDERAL TATA RUANG
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG /
BADAN PERTANAHAN NASIONAL

13 Mei 2018

KABUPATEN PURWOREJO KURANGI RESIKO BENCANA DENGAN PENATAAN RUANG TANGGAP BENCANA

Perkembangan Kabupaten Purworejo diprediksi akan mengalami peningkatan seiring dengan rencana pembangunan proyek strategis nasional di wilayah sekitarnya. Proyek strategis nasional itu termasuk rencana pembangunan Bendungan Bener, pengembangan kawasan Otorita Borobudur dan rencana pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA). Di sisi lain, terdapat hal yang harus diperhatikan mengingat sebagian besar Kabupaten Purworejo merupakan daerah rawan bencana. Diperkirakan 90% desa memiliki potensi bencana yang  terdiri dari tanah longsor, banjir dan angin ribut. Dengan potensi bencana yang tinggi tersebut diperlukan upaya-upaya untuk mengurangi resiko yang terjadi akibat bencana. “Melalui penyusunan Rencana Tata Ruang yang memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan, berbasis mitigasi bencana, serta pengendalian pemanfaatan ruang, maka risiko bencana dapat dikurangi”, demikian disampaikan Direktur Penataan Kawasan, Agus Sutanto dalam Focused Group Discussion (FGD) Penyusunan Masterplan Kawasan Rawan Bencana di Kabupaten Purworejo, Senin (14/5).

Menyikapi hal tersebut, Kabupaten Purworejo menyatakan  kesiapannya mendorong penataan ruang yang tanggap terhadap bencana. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bappeda Kabupaten Purworejo, Pram Prasetya Achmad “Pengembangan kawasan di sekitar Kabupaten Purworejo diperkirakan akan sangat pesat, terutama melalui pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) serta pengembangan akses dari bandara NYIA menuju ke Borobudur. Tingginya perkembangan wilayah tersebut dikhawatirkan akan berdampak bagi kerentanan wilayah terhadap bencana, terlebih Kabupaten Purworejo masuk dalam kabupaten dengan risiko bencana tinggi dan menempati urutan ke 18 dari dari 496 Kabupaten/ Kota se-Indonesia,” ujar Pram.  

Pada tahun 2018, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional bekerjasama dengan Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada melakukan penyusunan masterplan kawasan rawan bencana di Kabupaten Purworejo. Penyusunan masterplan kawasan berbasis rawan kebencanaan disepakati akan diprioritaskan pada kawasan yang berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta, yang diperkirakan akan berkembang sangat pesat. Kawasan tersebut berlokasi di Kecamatan Purwodadi dan Kecamatan Bagelen dan memiliki kerentanan terhadap bencana banjir dan tsunami.

Rencana tata ruang yang tanggap dan responsif terhadap bencana menjadi keharusan karena menyangkut nyawa manusia dan keberlangsungan investasi infrastruktur kawasan. “Investasi untuk mengurangi risiko bencana dapat dilakukan melalui perencanaan wilayah dan penguatan kelembagaan, terutama pada fase pra-bencana,” ujar Agus. Fokus penyusunan masterplan  ini adalah untuk memahami risiko bencana. Untuk kemudian dicari solusinya apakah melalui adaptasi, intervensi teknis, atau penghindaran (retreat).

Selain itu, perlu diingat pula bahwa setiap pembangunan akan menimbulkan dampak baik secara ekonomi, lingkungan dan sosial budaya. Dampak itu akan dirasakan terutama oleh  masyarakat sekitar baik pada tahap konstruksi maupun tahap operasi. “Pembangunan seyogyanya memberikan dampak positif bagi masyarakat. Jangan sampai masyarakat hanya sebagai penonton dan menerima dampak negatif dari geliat pembangunan,” ungkap Pram.

Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari PSBA UGM, Badan Pelaksana Otorita Borobudur, Kementerian ATR/BPN, dan perwakilan instansi daerah. “Rekomendasi teknis terkait mitigasi bencana diperlukan saat  penyusunan rencana tata ruang maupun saat  melakukan revisi rencana tata ruang sesuai Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 8 Tahun 2017 tentang Pedoman Pemberian Persetujuan Substansi dalam Rangka Penetapan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Provinsi dan Rencana Tata Ruang Kabupaten/ Kota,” tutup Agus.


Sumber : admin

Kembali ke halaman sebelumnyaIndeks Berita